Nafsu SpG

Posted by Shinsetsu on 01:16 PM, 17-Dec-11 • Under: Cerita 17+
Sore itu saya melakukan sedikit shopping disupermarket kecil di dekat rumahku, AMARKET. Meski kecil, tempatnya nyaman, dan juga beberapa pegawai prianya yang lumayan ganteng. Ada satu pegawai yang sangat menarik. Namanya Sunaryo, tapi dipanggil Naryo.Umurnya sekitar 20an, masih muda. Rambutnya pendek rapi, baru saja dicukur. Wajahnya ganteng sekali,apalagi jika dia sedang menyisakan sedikit sisa


cukuran kumis dan brewoknya. Ah, gak tahan! Kulitnya memang gelap, seperti kulit kebanyakkan pria Jawa.Badannya biasa saja, tertutup oleh seragam kaos kemeja merah AMARKET. Namun saat dia menyilangkan lengannya di depan dada, nampak bahwa kedua tangannya itu lumayan kekar. Tiap kali berbelanja di situ, saya sering curi-curi pandang, berpura-pura mondar-mandir melihat barang. Sikap Naryo biasanya terlihat dingin, jarang senyum, kecuali jika sedang diajak bicara.



Entah kenapa, saat itu, ketika saya diam-diam memperhatikannya, Naryo ternyata membalas pandangan mataku. saya deg-degan sebab pandangan matanya

terlihat kaku dan dingin, seolah dia mencurigai saya ingin mencuri sesuatu. Memang tingkah lakuku terlihat agak aneh. Tapi hal itu disebabkan karena saya salah

tingkah memperhatikan dia, bukan karena saya berniat mencuri. Namun Naryo mendekatiku dan berbisik,

"Tingkah lakumu aneh banget dari tadi. Mau nyolong yach?" Nampaknya Naryo mencoba untuk tidak menimbulkan kehebohan.



"Nggak," jawabku, gugup. Jelas saja aku gugup,ditanyai oleh pria yang saya taksir. Apalagi naryo ganteng. saya megap-megap mencari napas, sesak.



"Ayo sini, ikut saya ke atas," ujar Naryo. Tanganku langsung ditarik. Saya tak bisa melawan, sebagian karena saya memang ingin diajak pergi olehnya. Tak ada pengunjung toko yang memperhatikan kami. Namun salah satu pegawai pria, teman kerja Naryo, melihat kami. Naryo membawaku ke belakang toko. Sebuah tangga menuju lantai atas berlokasi di situ. Pegawai ganteng itu lalu membawaku naik ke lantai atas. Lantai atas

dibangun untuk kebutuhan tempat tinggal para pegawai toko. Saya hanya melihat sebuah lorong pendek dengan banyak pintu, seolah sedang berada di dalam sebuah motel kecil. "Sini, masuk," kata Naryo, membuka sebuah pintu. Ternyata saya dibawa masuk ke dalam gudang.



Gudang itu kecil, hanya diterangi sebuah lampu neon remang-remang. Tak ada jendela satu pun; hanya ada sebuah ventilasi. Suasana terasa sesak dan pengap.

Berbagai kotak produk bertumpuk di mana-mana. Naryo menutup pintu. Jantungku berdebar kencang, tak tahu apa yang sedang terjadi. "Kamu nyolong apa tadi?"

tanyanya agak ketus.



"Nggak kok," jawabku, agak gemetar. Meski saya memang tak berslah, tetap saja takut.



"Bohong kamu! Sini, saya geledah," balas Naryo. Dengan kasar, kedua tangannya meraba-raba badanku dari leher turun sampai ke pinggang. Saat dia sibuk meraba-raba

celana pendekku, saya hampir tak dapat menahan gejolak nikmat karena tangannya tanpa sengaja mengelus-ngelus kontolku yang mulai ngaceng. "Apa ini?" tanyanya, agak

kesal.



"Hmm... anu... itu batang saya," jawabku, malu-malu sekaligus takut. Kontolku tumbuh semakin besar dan panjang, menciptakan tonjolan besar di dalam celana

pendekku. Tonjolan itu semakin besar berhubung sayatidak mengenakan celana dalam.



"Bohong, pasti barang curian. Ayo, buka!" gertaknya. Dan sebelum saya sempat membela diri, tiba-tiba Naryo sudah menarik celanaku turun. SRET! Kontol ngacengku

terekspos, bergoyang naik turun, terkena celana, di depan Naryo. Kedua bola pelerku tergantung lemas karena suhu ruangan yang agak panas. Tiba-tiba saja, kemudian, Naryo menggenggam batang kontolku dan langsung mengocok-ngocoknya. Tak ayal lagi, saya

mendesah kenikmatan. Melihat aku sangat menikmatinya, Naryo berkata, " Bener dugaan gue. Loe ini homo. Pantes aja loe sering ngeliatin gue diam-diam. Kirain

gue gak tau?" Dengan kasar, Naryo juga melepas kaosku. Aku kini berdiri bertelanjang bulat di hadapan pria yang sering mengisi fantasi mesumku tiap kali saya onani. "Ini yang loe mau kan?" tanyanya dengan nada mencibir seraya memelorotkan celana panjangnya. Dengan kasarnya, Naryo memaksaku berlutut di depannya.



"...hhohh..." desahku ketika mataku menangkap pemandangan yang menakjubkan. Di depanku terpampangcelana dalam Naryo, briefs putih. Celana dalam itu nampak ketat sekali, terlalu sempit untuk ukuran pinggang pria ganteng itu. Benjolan besar nampak menghiasi bagian depan briefs itu, lengkap dengan noda basah. Rupanya Naryo sudah merencanakan semua itu sehingga dia sudah terlanjur terangsang. Kudekatkan hidungku pada tonjolan itu dan kuhirup dalam-dalam aroma kelaki-lakian Naryo. Mmm... sedap.. Aroma precum menyengat hidungku, merangsang nafsu birahiku.



"Jangan dihirup doank. Buka!" perintah Naryo, menekan kepalaku dengan kasar.



Dengan tangan gemetar karena gugup, saya menyelipkan jari-jariku masuk ke dalam karet celana dalamnya. Kulit tubuh Naryo terasa hangat dan agak basah dengan keringat. Lalu kepelorotkan celana dalam itu. Kontol Naryo mendesak keluar dan langsung menampar pipiku. Aku kaget dan melepaskan celana dalam itu. Briefs putih milik Naryo turun dengan sendirinya sampai ke mata kaki. Di hadapanku, kontol ngaceng kepunyaan

Naryo terlihat begitu menggoda.



Seperti kontol orang Jawa kebanyakkan, kontol Naryo bersunat. Jahitan sunatnya sangat bagus sehingga Naryo seolah terlahir dalam keadaan bersunat. Kepala kontolnya berkilauan berlumuran dengan cairan precum. Tegang, kontol itu berdenyut-denyut. Bentuknya indah sekali, seperti helm baja kemerahan. ...
...Ukurannya pun lumayan besar. Di pangkal batangnya ditumbuhi jembut. Kontol Naryo sungguh kontol terindah yang pernah

kulihat. Kulihat Naryo mendelik padaku, memaksaku dengan pandangan matanya untuk segera menghisap batang kemaluannya itu.



"Ayo, tunggu apa lagi. Isep kontol gue. Loe doyan kontol kan? Sekarang gue kasih kontol gue. Cepet isep!" perintahnya. Kontolnya didorong paksa ke

bibirku. Noda precum melumuri bibirku. Tanpa membantah, aku membuka mulutku. Kontol besar itu pun masuk. Mulutku penuh dengan batang kelaki-lakian Naryo. Rasa precumnya yang asin dan licin memenuhi syaraf perasa lidahku. Kontol itu masuk terus sampai bulu jembut yang tumbuh di pangkal kontol itu menggelitik hidungku. Aku hampir tersedak karena kontol itu hampir menyentuh anak tekakku. Wajah Naryo menyunggingkan sebuah senyum mesum. "...hhhoohhh... mulut loe anget dan basah... ooohh...."



Kemudian Naryo mulai menggenjot mulutku. Kontolnya ditarik maju-mundur dengan irama tetap. Untung aku sudah berpengalaman dalam hisap-menghisap kontol sehingga aku bisa mengimbangi gerakan kontolnya. Bibirku sengaja kukecilkan agar terasa sempit. Batang Naryo bergerak keluar-masuk semakin lama semakin cepat. "...mmmpphh... mmpphh..." Hanya itu yang bisa

kusuarakan.



Naryo semakin terangsang. "...hhhoo... aaahhh... aaahhh...." Dia memakai mulutku untuk mengentot. Saya cuma berlutut di tempat dan membuka mulutku sementara Naryo memuaskan libidonya. "...hhhoosshhh.... aaahhh...." Desahan-desahan mesum Naryo terus terdengar. Sementara itu, hawa pengap dan panas dalam gudang itu membuat tubuh kami berdua basah berkeringat. Naryo terpaksa melepas seragam kaos kemeja. Mataku terbuka dengan lebarnya, menikmati keindahan tubuh Naryo.



Tubuh laki-laki memang merupakan rangsangan hebat bagiku sebab kau adalah seorang pria homoseksual. Naryo memang tidak seatletis seperti yang kubayangkan. Namun, jika dibandingkan dengan pria biasa lainnya, tubuh Naryo bagus sekali. Dadanya nampak agak besar, bercampur dengan sedikit lemak. Kedua putingnya melenting, mengeras. Di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Puting Naryo yang berwarna coklat tua nampak kontras sekali jika dibandingkan dengan warna kulit tubuhnya yang sawo terang. Sedangkan perutnya rata tanpa otot. Keringat telah mengilapkan sekujur

tubuhnya. Kontolku makin ngaceng.



Mendadak Naryo mengerang-ngerang. "..aarrgghh... aaahhh..." Sedetik kemudian, kontolnya ditarik keluar. Saya terang saja kecewa. "...hhhooo... hampir aja," katanya sambil terengah-engah. "Mulut loe enak banget, sampai-sampai gue udah mau ngecret." Rupanya Naryo sengaja berhenti sebab dia tidak mau mencapai klimaksnya sebelum menikmati tubuhku. "Berbaring!" perintahnya lagi. Seperti anjing penurut, saya berbaring di atas tumpukan kardus. Dalam ahti, saya mtahu apa yang akan segera kudapatkan. Naryo pasti ingin mengentotku. Ooohh.... Ini yang kutunggu-tunggu!



"Gue denger, homo doyan dingentot. Gue mau nyobain loe," katanya. Dengan itu, kedua kakiku dikangkang lebar-lebar sampai-sampai lubang anusku terasa seperti

ditarik. "Keliatan sempit. Pasti enak kalo dingentot. Loe doyan dingentot 'kan?" Aku mengangguk-ngangguk, penuh antusiasme. Memang itu yang kuharapkan, agar bisa dingentot pria seganteng Naryo. Naryo mengangkat pinggulku tinggi-tinggi, kuat sekali dia. Mula-mula, kukira dia mau mencicipi kontolku tapi ternyata aku salah. Naryo cuma mau melumasi anusku saja dengan air liurnya. Beberapa kali dia meludahi anusku yang berkedut-kedut. Dapat kurasakan air liurnya melelh menuruni belahan pantatku. Lalu pinggulku dilepaskan begitu saja. Pantatku terhempas dan mengenai kardus.

Sekali lagi, kakiku dikangkangkan. kali ini, Naryo akan menyodomiku dengan kontolnya. "Gue mau loe memohon gue buat ngentotin loe. Ayo, mohon. Cepet!"



Apapun akan kulakukan agar si ganteng pramuniaga AMARKET itu sudi mengentoti pantatku yang lapar akan kontol itu. "Ngentotin saya, kumohon. Saya butuh

kontol Mas Naryo. Saya mohon agar Mas Naryo sudi mengentoti saya," mohonku. Sudah lama saya tidak dingentot, makanya saya rindu sekali akan hajaran kontol di dalam anusku. Saya menekankan keinginanku dengan meraba-raba kepala kontolnya sambil melemparkan pandangan memelas. "Fuck me..."



"Loe yang minta, loh. Jangan nyesel," sahut Naryo, mengocok-ngocok kontolnya. "Buka yang lebar," katanya, kasar. Kakiku dipegangi dan dibuka lebar-lebar. Tangannya terbentang sambil menahan kakiku. "...aaahhh..." desahnya ketika kepala kontolnya

bergesekkan dengan anusku. Digesek seperti itu, anusku langsung berkedut-kedut liar, tak sabar untuk segera disodomi. "Terima kontol gue... hhhoohh..." desah Naryo, mesum. Kontolnya didorong masuk, menekan anusku. Pelan tapi pasti anusku terdorong masuk dan mulai membuka. Kepala kontol yang penuh precum itu pun masuk perlahan-lahan. Ooohhh.... rasanya enak banget.

Bagi mereka yang masih perjaka, tahap ini adalah tahap yang paling menyakitkan, tapi saya telah terbiasa. Anusku membuka semakin lebar seiring dengan semain masuknya kontol Naryo ke dalam tubuhku. Selama proses penetrasi itu, prmauniaga tampan itu terus-menerus mengerang keenakkan. "...hhooosshh... sempit bener... aaahhh... lebih sempit dibanding memek pacar gue... aaarrghh..." Ternyata Naryo adalah pria straight dan sudah mempunyai pacar wanita. Paling tidak, Naryo sekarang sedang mengentoti aku, dan bukan mengentoti pacarnya. "...hhhoosshh.... aahhh... dikit lagi.... aaahhh.... ayo... buka pantat loe... hhhoohh,,, biarkan gue... aaahh... massuukk... ...

...hhhoosshhh...."

Dan... PLOP! Kepala kontol itu akhirnya masuk!



Aku mendesah, lega dan sekaligus puas. "...aaaahhhh.... kontol kamu besar banget...

aaahhh.... pantatku penuh, nih.... aaahhh...." Kedua kakiku kulilitkan pada pinggangnya. Oh, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Karyawan supermarket yang kutaksir sedang membenamkan kontolnya di dalam pantatku.



"Rasakan kontol gue. Loe pengen dkontolin ama kontol gue 'kan? Pacar gue aja gak tahan, apalagi loe yang homo." Dan Naryo pun mulai memompa pantatku. Mula-mula kontolnya ditarik keluar pelan-pelan. "...aaahhh..." desahnya ketika kulit kepala kontolnya bergesekkan dnegan dinding duburku. Setelah kepala kontol itu hampir keluar, Naryo mendorong masuk kontolnya. "...hhhoohhh...." desahnya lagi, matanya terpejam

rapat-rapat. Kontolnya ditarik keluar lagi, kemudian dibenamkan lagi, begitu seterusnya. Tarik,

"...aaahhh...", dorong, "...uuugghh....", tarik,

"....hhoosshhh...", dorong, "aaarrggghh..."



Bukan hanya Naryo saja yang mengerang, aku pun turut menyuarakan kenikmatanku. Setiap kali kontolnya bergerak masuk, aku ngos-ngosan. Seolah sesuatu yang besar sedang menembus dalam-dalam. Saya bahkan merasa seakan-akan batang kontol Naryo akan keluar dari dalam mulutku! Tapi saat kontol itu ditarik mundur, saya merasa kekosongan mengisi diriku. Naryo memang tukang ngentot yang handal. Nampaknya dia sering ngentotin pacarnya sehingga jurus ngentotnya tinggi sekali. Dengan kontolnya, Naryo sanggup membuatku gila dengan nafsu. "...hhhoohh... yyeeaahh... ngentot pantatku... aaahhh.... yang keras.... aaahhh.... lagi Mas..... aaahhh.... lebih keras..... aaarrgghh... saya mau kontol Mas Naryo... aaahhh.... ngentot.... ooohhh...."



"...aaahhh... gile... sempit.... aarrgghh..." erang Naryo, terus-menerus menggenjot pantatku. Badanku dipakai untuk melayani hawa nafsunya. Kontolnya dihajarkan ke dalam pantatku tanpa ampun. Irama ngentotnya pun semakin cepat. Gerakannya bagaikan

piston kereta api, memompa tanpa henti. Erangan nikmat kami berdua bercampur dan bergema di dalam gudang kecil itu. Tubuh kami berbalutkan tetes-tetes keringat, basah sekali. Naryo mendekatkan tubuhku padanya agar penetrasi kontolnya menjadi semakin

dalam. Alhasil, tubuh kami pun saling berdempetan.

"...aaahhh... enak banget... ooohh... gue ngentotin cowok... aarrgghh... gile... gak nyangka... aaahhh... bisa nikmat... aaahhh... banget... hhoosshh... mantap... aarrgghh... fuck you!... aaahhh... fuck!..."



Tak kuasa menahan birahiku, saya membiarkan tanganku menggerayangi tubuh Naryo. Ah, tubuhnya enak diraba-raba. Kontur ototnya, meski kecil, sangat terasa. Apalagi tonjolan dadanya, nikmat untuk diremas-remas. Dan tiap kali saya meremas dadanya, Naryo akan mengerang nikmat dan malah menjadi semakin bringas. Hajaran kontolnya terasa semakin keras, mengobok-ngobok isi perutku. Tanpa ampun, kontol Naryo menyodok sana-sini. Sesekali, organ kelaki-lakiannya itu mengenai prostatku sehingga saya menggelinjang-gelinjang karena nikmat. "...aarrgghh...

ooohhh...." Saya hanya bisa mengerang dan membiarkan pemuda ganteng itu memakai tubuhku demi kepuasannya. "...aarrgghhh... ngentoti saya, Mas... aarrgghh..." racauku seperti cowok murahan.



"...aarrgghh... ngentot loe!... aarrgghhh.... fuck!... kontol gue bikin loe terangsang kan?... hhhoohhh.... rasain kontol gue... aaarrgghh... gue bakal bikin loe ngecret... aarrgghh... gue mau loe ngecret... uuuggghh... ayo, homo... aarrgghh... kocok kontol

loe... aarrgghh... ngecret buat gue... aaahhh... kasih gue liat... uuugghhh... kalo loe doyan dikontolin... aarrgghh... ama kontol gue.... hhhoosshh..." Di tengah acara ngentot, Naryo masih sempat mendesakku untuk ngecret. Tentu saja saya menurut dengan senang hati.



Dengan sebelah tangan, saya mengocok kontolku secepat mungkin. Tapi entah kenapa, meski saya terangsang berat, saya tidak kunjung ngecret. Kontolku ngaceng, tegak berdiri, tapi pejuhku tidak mau tersembur keluar. "Ah, sini, gue kocokin," kata Naryo, agak jengkel.



Telapak tangannya yang kasar dan kapalan terasa menggesek batang kontolku. Dengan genggamannya yang kuat, pramuniaga bejat itu pun mengocok batang kontolku, naik-turun. "...aaahhh... hhhoohh... aaahhh..." Mataku merem-melek, tak kuasa menhaan kenikmatan yang berpadu pada kontolku. Ada sentuhanm hangat milik Naryo dan ada juga orgasme yang mulai bangkit dalam kontolku. Napasku mulai sesak, dadaku bergerak naik-turun. Dan kurasakan pejuhku mulai tersedot keluar dari dalam kantung pelerku. Cairan pejuhku mulai bergerak naik dan memasuki saluran uretra, naik terus hingga ke pangkal kontolku. Aaahhh.... saya hampir ejakulasi dan orgasme!

"...hhhoohh... mas.... aaahhh... mau keluar... aargrghh..." Kocokan tangan Naryo memang mantap!



"Keluarin aja... aaahhh..." desah Naryo, masih asyik menggenjot pantatku. "...hhhoohh... muncratin pejuh loe... aahhh... gue mau liat... ooohhh.... kalo kontol gue.... uuugghh... bisa bikin loe... aarrgghhh... terangsang abis... aaahhh... cepeten... ngecret....

aaahh...." Genggaman tangannya semakin kuat, memeras

kontolku habis-habisan.



Kontolku tak sanggup lagi menahan laju pejuhku. "...AAARRGGHHH!!!!..." Saya berteriak, menyuarakanorgasmeku. Spermaku menyembur keluar dengan penuh tenaga. CCRROOTT!!... CCRRROOTT!!!....

CCRROOOTTT!!!.... CCRRREETTTT!!!!... CCCRREETT!!!!

Kontolku menyemprotkan cairan kenikmatanku ke mana-...

...mana. Pejuhku menyembur mengenai dada bidang Naryo. Perutnya juga turut ternoda. Aku hanya bisa mengerang penuh nikmat mengiringi orgasme.

"...AAARRGGHH!!!... OOOHH!!!... UUUGGHH!!!!...

AAARRGGHH!!!!..." Tubuhku mengejang tak karuan seperti orang yang kesurupan. Sekujur badanku seperti sedang tersetrum. tak ada yang lebih nikmat daripada disodomi sambil dikocokin. Tangan Naryo masih terus memerah kontolku meskipun pejuhku tak lagi menyembur. Alhasil, badanku terus mengejang. Kedua kakiku terasa aku dan bergetar hebat. "AAARRGGHH... OOOHHH.... AAAHHH...." Ketika semuanya berakhir, saya hanya bisa terbaring lemas tak berdaya. Sisa sperma nampak menggenang di atas perutku. Naryo mengusap-ngusapkannya ke seluruh

tubuhku.



Sementara itu, badanku masih terus bergoyang-goyang, seiring dengan kerasnya sodokan kontolnya. Terkadang sodokannya serasa sangat keras, menghajar bagian tubuh

dalamku, namun tidak sakit. Anusku mengembang dan mengempis, memijat batang kontol Naryo. Naryo sampai ketagihan mengentoti pantatku, tergambar jelas di

matanya. Mendadak, Naryo memeluk tubuhku, keringat kami bercampur. Agar bisa memelukku, Naryo harus membungkukkan tubuhnya. Namun kontolnya masih terus

kerja lembur, mengebor pantatku. Dan tak disangka-sangka, dia langsung mendaratkan ciuman penuh nafsu di bibirku. Bibirku dilumat habis-habisan. Saya

tentu saja kaget tapi saya menerimanya dengan senang hati. Kubalas ciumannya dengan nafsu yang tak kalah besar. MMUUAAHH... MMMUUAAHH... Tak terlukiskan betapa

nikmatnya berciuman dengan si cowok ganteng itu.



Dan saat sedang memelukku, tiba-tiba seluruh tubuh Naryo menegang. Otot-ototnya menjadi kaku. Napasnya menderu-deru di telingaku seperti suara kapal terbang. Pegangan tangannya menguat. Erangannya menjadi lebih kencang. "..AARRGGHH... hhhoohhh.... gue gak kuat.... aarrgghh... mau keluar... aarrgghh... rasakan ini...

OOOHHHH... terima pejuh gue.... AAARRGGGHHH!!!!!...." Lolongan panjang penuh kenikmatan menjadi pembuka orgasme Naryo. Kontol besar itu, tanpa bisa dicegah, berdenyut tak karuan dan menyemburkan cairan hangat nan kental. Pejuh Naryo menyembur dalam sekali. CCRROOTT!!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!! CCRROOTT!!

Berkali-kali, sari pati kelaki-lakian itu memenuhi duburku. Tiap kali menyembur, Naryo akan mengeluarkan erangan nikmatnya. "AARRGHH!!!... AAAHHH!!!...

HHOOOHH!!!... AAAHHH!!!!" Selama proses orgasme dan ejakulasi, pantat Naryo masih bergerak naik-turun,nmengentot dan menyodomiku. Ekspresi nikmat yang luar

biasa menghiasi wajahnya yang ganteng itu. "...aarrgghhh..." desahnya, panjang, saat semuanya berakhir.



Naryo, bernapas terengah-engah, menimpa tubuhku dengan tubuhnya. Tubuh kami terasa licin karena membanjirnya keringat. Sisa sperma yang tadi sempat membanjiri

tubuhku juga turut melumasi tubuh telanjang kami. Selama beberapa saat, pria tampan itu terbaring di atasku, mengatur napasnya. Saya dengan senang hati memberikan badanku sebagai tempat istirahatnya. Kedua putingnya yang mengeras terasa lancip mengenai dadaku, nikmat sekali. Kontolnya, masih tertancap di dalam

lubang ngentotku, perlahan-lahan melemas. Cairan sperma Naryo mengalir keluar saat kontol yang menyumbat pantatku tadi mengecil dan melemas. Cairan putih kental itu mengalir keluar dari lubang pantatku dan menetes ke atas tumpukkan kardus. Kardus yang menopang persetubuhan sejenis kami menjadi basah dengan noda keringat dan sperma. Bahkan sebagian menjadi penyok dan bonyok akibat dari serunya

persetubuhan kami tadi.



"Enak banget, makasih yach. Udah lama gue gak ngeseks," kata Naryo. Pramuniaga yang tadinya garang kini mendadak ramah. Mungkin kegarangannya tadi adalah efek samping dari birahinya. "Gak nyangka homoan bisa asyik banget. Bahkan lebih asyik dibanding mengentoti pacar cewekku. Kapan-kapan, kita homoan lagi yach." Naryo bangkit berdiri. Saat kontolnya terlepas dari dalam tubuhku, saya mendesah penuh kekecewaan. Ingin

rasanya agar kontol itu bersarang di dalam tubuhku selamanya. Buru-buru, Naryo mengenakan seragam AphAMARKETnya kembali tanpa peduli bahwa tubuhnya masih

berlumuran keringat. Dengan semprotan cologne yang dipinjam dari dalam sebuah kardus cologne pria, Naryo menyamarkan aroma pejuh yang menempel di tubuhnya. Dan

tanpa berkata apa-apa lagi, pria ganteng itu menyelinap keluar, meninggalkanku sendirian.



Aku masih terbaring di atas tumpukan kardus, mengenang kejadian menakjubkan tadi. Oh, mimpiku menjadi kenyataan. Meskipun saya hanya menjadi tempat pelampiasan nafsunya saja, saya cukup bahagia bisa melayani birahi Naryo.



Tiba-tiba sesosok pria menyelinap masuk. Saya kaget sekali dan buru-buru menutupi kontolku. Rasa malu dan takut menghantuiku. Tapi pria yang ternyata juga pramuniaga AMARKET itu mendekatiku seraya memberi isyarat padaku agar saya

diam dan tidak berteriak.

Setelah mendekat, dia berbisik, "Gue udah liat apa yang dilakuin Naryo ama loe. Loe homo 'kan?" Aku hanya mengangguk, masih takut dan gemetar. "Mau isep kontol

gue gak?" tanyanya. Tangannya langsung membuka resleting celana panjangnya. Sebatang kontol yang tegang mencuat dari lubang resletingnya. Saya tersenyum mesum padanya seraya membuka mulutku. Kontol itu pun bersarang di dalam mulutku dan aku mulai menyedotnya. SLURP! SLURP! Aaahh... AMARKET memang tempat belanja paling asyik!



TAMAT

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)